
Jakarta –
Kadar kolesterol yang tinggi dapat memicu sejumlah masalah kesehatan, seperti penyumbatan pembuluh darah, serangan jantung, dan stroke. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengontrol kadar kolesterol dan tidak melebihi batas normal. Salah satunya adalah mengonsumsi makanan penurun kolesterol.
Kolesterol adalah senyawa lemak yang diproduksi oleh tubuh, menurut Klinik Cleveland. Kolesterol memiliki banyak fungsi, mulai dari menunjang produksi hormon, vitamin D, serta fungsi saraf dan otak.
Kolesterol dibagi menjadi dua jenis, HDL (high-density lipoprotein) dan LDL (low-density lipoprotein). HDL sering disebut 'kolesterol baik' karena membantu membersihkan kelebihan kolesterol dari tubuh.
iklan
Gulir untuk melanjutkan konten.
Sementara itu, LDL sering disebut sebagai 'kolesterol jahat' karena menyebabkan penumpukan plak di pembuluh darah (aterosklerosis) dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Oleh karena itu, kadar LDL dan kolesterol total harus selalu dijaga agar tetap normal dan mencegah penyakit.
Makanan penurun kolesterol
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, konsumsi makanan tertentu membantu menurunkan dan mengontrol kadar kolesterol. Makanan tersebut biasanya mengandung nutrisi seperti serat dan asam lemak omega-3 yang membantu menurunkan kolesterol darah.
Kabar baiknya, makanan penurun kolesterol tidak sulit ditemukan. Bahkan, ada pula yang bertemu setiap hari.
Menurut Healthline, berikut makanan yang bisa digunakan untuk menurunkan kadar kolesterol:
1. Alpukat
Alpukat mengandung serat dan lemak sehat, yang membantu menurunkan LDL dan meningkatkan HDL dalam darah.
Pada tahun tersebut Sebuah studi tahun 2015 menemukan bahwa orang dewasa obesitas yang makan alpukat setiap hari memiliki kolesterol LDL lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang tidak mengonsumsi buah tersebut.
2. Kacang
Kacang-kacangan seperti almond, walnut, kacang mete, dan pistachio merupakan makanan padat nutrisi. Kacang mengandung serat, protein, serta berbagai vitamin dan mineral.
Pada tahun tersebut Tinjauan studi tahun 2023 menemukan bahwa kacang membantu menurunkan LDL, trigliserida, dan kolesterol total. Penelitian lain menunjukkan bahwa konsumsi kacang-kacangan secara teratur dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 30 persen.
3. Ikan berlemak
Ikan berlemak seperti salmon dan mackerel mengandung asam lemak omega-3 yang penting untuk mengontrol kadar kolesterol darah.
Pada tahun tersebut Sebuah studi tahun 2022 menemukan bahwa asam lemak omega-3 dapat meningkatkan HDL, yang membantu tubuh membuang lemak berlebih.
Tak hanya itu, mengonsumsi asam lemak omega-3 dapat membantu mengurangi risiko berikut:
- Penyakit kardiovaskular
- Penyakit jantung
- tekanan darah
- Aritmia
- serangan jantung
4. buah beri
Buah beri seperti stroberi, blueberry, dan blackberry merupakan buah yang ideal untuk membantu mengontrol kadar kolesterol. Pada tahun tersebut Sebuah studi tahun 2012 menemukan bahwa buah beri mengandung zat yang disebut pektin.
Pektin merupakan salah satu jenis serat yang membantu menurunkan kolesterol. Penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi pektin dapat membantu menurunkan kolesterol hingga 10 persen.
Pada tahun tersebut Studi lain pada tahun 2019 menemukan bahwa makan buah beri dapat meningkatkan HDL dan menurunkan LDL.
5. Cokelat hitam
Percaya atau tidak, dark chocolate merupakan makanan penurun kolesterol yang baik. Itu karena coklat hitam mengandung polifenol, sejenis antioksidan yang memiliki efek kuat dalam menurunkan kadar kolesterol.
Pada tahun tersebut Sebuah studi tahun 2022 menemukan bahwa polifenol dalam coklat hitam dan kakao dapat meningkatkan kadar HDL dalam darah. Selain itu, polifenol diduga membantu mencegah oksidasi LDL.
Namun karena dark chocolate mengandung gula, sebaiknya perhatikan konsumsinya agar tidak melebihi batas yang wajar.
6. Bawang Putih
Bumbu yang ada di dapur jutaan orang ini memiliki khasiat menurunkan kadar kolesterol. Pada tahun tersebut Sebuah meta-analisis yang diterbitkan pada tahun 2018 menemukan bahwa bawang putih dapat membantu menurunkan LDL dan kolesterol total dalam darah.
Peneliti menekankan bahwa seseorang perlu mengonsumsi bawang putih dalam jumlah besar untuk mendapatkan manfaat tersebut. Oleh karena itu, mengonsumsi bawang putih dalam bentuk suplemen mungkin lebih efektif dibandingkan mengonsumsinya secara langsung.
(di/suk)