
Jakarta –
Penyakit ginjal merupakan penyebab kematian nomor 10 di Indonesia, dengan lebih dari 42.000 kematian per tahun. Menurut laporan website Sehat Negariku Kementerian Kesehatan (Kamkenx), jika dilihat dari ciri-ciri umur, penyakit ginjal disebutkan pada kelompok umur diatas 75 tahun (0,6%).
Namun menurut Kementerian Kesehatan, tampaknya penyakit ginjal kronis yang awalnya banyak diderita oleh lansia, mulai beralih menyasar masyarakat usia produktif. Penyakit ini mulai meningkat pada usia 35 tahun ke atas. Lalu apa penyebab penyakit ginjal?
Penyebab penyakit ginjal
iklan
Gulir untuk melanjutkan konten.
Menurut WebMD, penyakit ginjal terjadi ketika terdapat kerusakan atau kelainan pada fungsi ginjal. Penyakit ginjal mempengaruhi kemampuan tubuh untuk membersihkan darah, menyaring kelebihan air dari darah, dan mengontrol tekanan darah.
Ketika ginjal rusak, limbah dan cairan dapat menumpuk di dalam tubuh sehingga menyebabkan pembengkakan pada pergelangan kaki, mual, lemas, susah tidur, dan sesak napas.
Berdasarkan situs Sehat Negariku Kementerian Kesehatan, penyakit ginjal bisa disebabkan oleh berbagai hal. Misalnya infeksi, tumor, penyakit bawaan, penyakit metabolik atau dermatologis dan lain-lain. Penyakit ginjal kronis biasanya terjadi secara bertahap dan kronis.
Cara menjaga kesehatan ginjal
Penyakit ginjal tentu bisa melemahkan siapa pun. Untuk itu, masyarakat sebaiknya mengenali penyakit ini dengan melakukan pencegahan sedini mungkin dan mengenali ciri-ciri penyakit ginjal. Berikut beberapa cara mencegah penyakit ginjal seperti dilansir dari berbagai sumber.
1. Berolahragalah dengan giat
Rutin berolahraga dinilai dapat menurunkan risiko penyakit ginjal kronis. Itu karena olahraga menurunkan tekanan darah dan meningkatkan kesehatan jantung, yang keduanya penting untuk mencegah kerusakan ginjal. Olah raga Anda tentu tidak perlu yang berat. Lakukan olahraga ringan seperti jalan kaki, jogging, atau bersepeda.
2. Menjaga kadar gula darah
Gula darah tinggi dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Sebab ketika sel-sel tubuh tidak bisa menggunakan glukosa dalam darah, ginjal terpaksa bekerja lebih keras untuk menyaring darah. Jika tidak ditangani, hal ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan bahkan mengancam nyawa.
Untuk itu, menjaga pola makan sehat dan mengontrol porsi makan penting dilakukan untuk menjaga kadar gula darah. Sebaiknya hindari makanan tinggi gula, lemak, dan kalori serta batasi sumber karbohidrat sederhana. Hindari juga makanan dan minuman olahan, terutama makanan cepat saji.
3. Sediakan air secukupnya
Asupan air yang cukup penting untuk kesehatan ginjal dan menjaga tubuh tetap terhidrasi. Alasannya adalah air membantu mengeluarkan natrium dan racun dari ginjal. Usahakan untuk minum air putih sebanyak 8-10 gelas sehari untuk mencukupi kebutuhan cairan tubuh.
4. Hindari senyawa BPA
Bisphenol A atau dikenal juga dengan BPA merupakan senyawa kimia yang sering ditemukan pada wadah makanan dan minuman berbahan plastik berbahan polikarbonat. Jika terpapar di dalam tubuh, BPA berpotensi memicu seseorang terserang penyakit, termasuk penyakit ginjal.
Sebuah studi yang dilakukan oleh Universidad de Alcalá, Departemen Sistem Biologi/Fisiologi, Spanyol (2021) mengamati hubungan antara paparan BPA dan penyakit ginjal kronis.
Studi tersebut menunjukkan bahwa tingginya kadar BPA dalam darah, terutama pada orang dengan masalah patologis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, lebih mungkin menyebabkan penyakit ginjal.
Sementara itu, penelitian lain yang dilakukan oleh Renal, Vascular and Diabetes Research Laboratory, Spanyol (2018) menunjukkan bahwa BPA menyebabkan kerusakan mitokondria, stres oksidatif, dan kematian apoptosis pada sel tubulus. Akibatnya, BPA dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ginjal kronis.
Bahaya BPA kini menjadi isu mendesak bagi banyak pihak. Dalam hal ini, BPA dalam tubuh dapat mempengaruhi sistem endokrin dengan meniru efek molekul estrogen (Studi Literatur School of Medicine and Health Sciences, Catholic University of Valencia San Vicente Martir, Spanyol, 2021).
Sistem endokrin dikenal sebagai jaringan kelenjar yang memproduksi dan melepaskan hormon yang membantu mengatur banyak fungsi vital. Ini termasuk mengubah kalori menjadi energi, yang digunakan untuk menjalankan fungsi semua sel dan organ dalam tubuh. Dengan demikian, jika sistem ini rusak maka akan mempengaruhi fungsi organ lainnya.
Meningkatnya ancaman BPA terhadap kesehatan manusia telah menjadi isu mendesak bagi banyak pihak. Menurut CNBC Indonesia, beberapa negara telah melarang penggunaan BPA pada kemasan makanan dan minuman, antara lain Kanada, Amerika Serikat, Denmark, Malaysia, China, dan negara lain yang berada di bawah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia. Melakukan perubahan label pangan berdasarkan studi risiko bisphenol A (BPA) yang dilakukan pada air minum dalam kemasan (AMDK).
(Anl/Ega)