
Jakarta –
Seks adalah aspek penting dalam hubungan pasangan. Namun terkadang pasangan berhenti berhubungan seks karena berbagai alasan.
Rutinitas sehari-hari yang padat, masalah kesehatan, dan masalah hubungan menjadi beberapa alasan yang membuat pasangan enggan berhubungan seks. Lantas, apa jadinya jika pasangan berhenti berhubungan seks dalam jangka waktu lama? Apakah ada efek kesehatannya?
Berikut kemungkinan efek samping berhenti cinta dalam jangka waktu lama, disebutkan dari berbagai sumber.
iklan
Gulir untuk melanjutkan konten.
1. Meningkatnya stres dan kecemasan
Mengutip WebMD, pasangan yang tidak melakukan hubungan seks mungkin akan merasa kurang terhubung satu sama lain. Hal ini menghalangi mereka untuk membicarakan perasaannya atau mendapatkan dukungan untuk mengelola stres sehari-hari.
Berhubungan seks terkadang menyebabkan tubuh melepaskan oksitosin dan endorfin. Kedua hormon ini berperan dalam mengendalikan efek stres dan mendukung kualitas tidur.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal The Gerontologist yang dikutip dari laman Pennsylvania State University menganalisis hubungan antara fungsi ereksi, kepuasan seksual, dan kemampuan kognitif pada pria. Penelitian menunjukkan bahwa pria yang tidak puas secara seksual atau mengalami disfungsi ereksi lebih rentan mengalami penurunan daya ingat di usia tua.
Para ilmuwan mengatakan bahwa jika Anda memiliki kepuasan yang rendah secara umum, Anda lebih mungkin menderita masalah kesehatan seperti demensia, penyakit Alzheimer, penyakit kardiovaskular, dan masalah terkait stres lainnya, yang dapat menyebabkan penurunan kognitif.
Pennsylvania State University dan salah satu penulis penelitian tersebut, Martin Sliwinski.
3. Hubungan akan terdistorsi
Seks teratur membuat pasangan tetap dekat secara emosional; Hal ini memungkinkan komunikasi yang lebih baik. Pasangan yang lebih sering berhubungan seks lebih bahagia dibandingkan pasangan yang tidak lebih sering berhubungan seks.
Ini tidak berarti bahwa pasangan harus selalu berhubungan seks. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pasangan bahagia, tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau lama hubungan, berhubungan seks setidaknya sekali seminggu.
Pasangan yang jarang berhubungan seks mungkin lebih rentan terkena penyakit seperti pilek dan flu. Pasalnya, seks teratur meningkatkan kadar antibodi imunoglobulin A yang melindungi tubuh dari infeksi virus dan bakteri.
5. Atrofi alat kelamin wanita
Bagi wanita, terutama yang sudah mengalami menopause, rutin berhubungan intim sangatlah penting untuk menjaga kesehatan vagina. Menurut Klinik Cleveland, wanita yang jarang melakukan hubungan seks penetrasi juga lebih mungkin mengalami mutilasi alat kelamin. Atrofi genital adalah penyakit di mana lapisan vulva menjadi tipis atau kering sehingga menimbulkan rasa gatal, perih, dan nyeri saat berhubungan seks. Atrofi vagina dapat menyebabkan penis mudah robek, sakit, atau berdarah saat berhubungan seks.
6. Kanker prostat
Hubungan antara seks dan kanker prostat masih menjadi pro dan kontra. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa pria yang tidak sering ejakulasi memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker prostat.
Sebuah penelitian besar terhadap 30.000 pria menemukan bahwa pria yang ejakulasi lebih dari 21 kali sebulan lebih kecil kemungkinannya terkena kanker prostat dibandingkan mereka yang hanya ejakulasi empat hingga tujuh kali sebulan.
(di/kna)