
Jakarta –
Sebuah penelitian terbaru menunjukkan dampak terinfeksi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 pada otak. Penelitian ini menemukan bahwa virus menggunakan 'pintu belakang' untuk menginfeksi otak.
Temuan ini mungkin sebagian menjelaskan mengapa banyak orang mengalami gejala seperti kelelahan, pusing, kabut otak, dan kehilangan rasa dan penciuman setelah tertular atau tertular virus.
Para ilmuwan menduga gejala tersebut mungkin terjadi karena SARS-CoV-2 memasuki sistem saraf pusat. Namun belum jelas bagaimana dan mengapa virus berpindah dari sistem pernapasan ke otak.
iklan
Gulir untuk melanjutkan konten.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan di jurnal Nature Microbiology pada tanggal 23 Agustus, para peneliti menemukan mutasi pada protein lonjakan virus, yang mengikat molekul yang disebut ACE2 di permukaan sel dan menggunakannya untuk memasuki sel manusia.
“Lonjakan protein dari SARS-CoV-2 melapisi bagian luar virus dan memungkinkannya masuk ke dalam sel,” kata Judd Halquist, salah satu rekan penulis studi dari Northwestern University Chicago, dalam Live Science Selasa (27/8/2024 ).
Biasanya virus bisa masuk ke dalam sel melalui dua cara, yaitu melalui 'pintu depan' melalui permukaan sel, atau melalui 'pintu belakang' setelah masuk ke dalam sel.
Bagian dari protein lonjakan yang disebut situs pembelahan furin membantu virus memasuki sel melalui 'pintu depan'. Jika situs pembelahan furin ini diubah atau hilang, virus hanya dapat menggunakan jalur 'pintu belakang'.
“Agar berhasil mencapai dan bereplikasi di otak, virus tampaknya harus melalui pintu belakang. Menghapus situs pembelahan furin membuatnya lebih mungkin menggunakan jalur ini dan menginfeksi sel-sel otak,” ujarnya.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan tikus hasil rekayasa genetika yang selnya menghasilkan ACE2 manusia. Setelah tikus terinfeksi, peneliti mengambil sampel virus dari jaringan paru-paru dan otak dan mengurutkan genom virus.
Jude bilang tikus itu terkena infeksi otak. Namun, ketika virus bermutasi pada tempat pembelahan furin, lebih banyak sel yang terinfeksi.
Meskipun belum diketahui secara pasti apakah sel-sel yang terinfeksi ini bertanggung jawab atas semua gejala neurologis Covid-19, para peneliti telah melihat tingkat infeksi yang lebih tinggi terjadi pada sel-sel di korteks hipokampus dan premotor, yang masing-masing berhubungan dengan memori dan pergerakan.
Perlu diketahui, penelitian ini hanya dilakukan pada tikus dan diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui apakah SARS-CoV-2 memiliki persyaratan serupa untuk menginfeksi otak manusia. Meski begitu, penelitian ini bisa dibilang merupakan langkah pertama untuk mengatasi efek neurologis dari Covid-19.
(avk/kna)