
Jakarta –Masalah pencernaan meningkat selama Ramadhan. Menurut ahli gastroenterologi, banyak pasien yang mengeluhkan gangguan usus atau sembelit.
Hal tersebut antara lain diungkapkan oleh dr Amanda Pitarini, SpPD-KGEH dari RS Abdi Waluyo. Salah satu penyebabnya adalah perubahan pola makan yang mempengaruhi sistem metabolisme.
“Tingkat sembelit meningkat di bulan puasa. Konsumsi air sangat rendah, makanan tidak cukup, sehingga serat seringkali dikesampingkan,” kata dr Amanda kepada Detikcom, Kamis (14/3/2024).
Selain kelembapan dan rendahnya asupan serat, rendahnya frekuensi buang air besar seringkali dipengaruhi oleh porsi makan yang tidak mencukupi. Artinya, Anda tidak akan mengalami sembelit.
“Kadang kita berpikir, wah sudah 3 hari saya tidak buang air besar, hanya teguk saja. Nah, bagaimana bisa usus saya berfungsi tanpa makan dan saya disuruh buang air besar tiba-tiba? Ya tidak bisa,” kata dr. Mario Budi Purwanegara, SPPD-KGEH dari RS Alia Depok.
Sembelit bukan hanya tidak nyaman, tapi juga harus diobati karena mempengaruhi pola makan Anda secara keseluruhan. Saat seseorang sulit buang air besar, perutnya mudah kembung atau mengeluarkan gas, bahkan terasa mual.
Jadi kita urus semuanya dari atas sampai bawah, cara makan yang baik, cara membersihkan yang benar, kata dr Amanda.
Risiko sembelit dapat dikurangi antara lain dengan menjaga kecukupan cairan dan serat dalam makanan. Selain itu, tidur yang cukup dan berolahraga juga dapat membantu mengurangi risikonya.