
Jakarta –
Tiongkok dikejutkan dengan pelatihan yang berfokus pada para istri yang mengajari mereka cara selingkuh untuk mencegah suaminya selingkuh.
SCMP melaporkan bahwa para istri ini membayar 2.999 yuan atau Rp 6,4 juta dan mengikuti program pelatihan dua hari untuk membantu mereka lebih dekat dengan suaminya.
Kamp ini dikatakan mengajarkan para istri teknik berciuman, tarian sensual, dan pelatihan peran intim untuk menghidupkan kembali gairah seks mereka.
iklan
Gulir untuk melanjutkan konten.
Tema acara tersebut adalah “Hasrat seksual adalah seorang wanita yang mengendalikan hidupnya”, yang bertentangan dengan seksisme Tiongkok. Namun, di balik klaim tersebut, muncul kekhawatiran mengenai dampak psikologis dan kesehatan mental peserta.
Dalam laporan sebelumnya, Che Xiaoyan, direktur komite keperawatan asosiasi tersebut, mengatakan kepada surat kabar tersebut bahwa semua terapis seks terdaftar dan bekerja di rumah sakit di daratan Tiongkok.
“Mereka telah menjalani pelatihan multidisiplin yang diselenggarakan oleh Masyarakat Studi Seksualitas Tiongkok, yang mencakup bidang-bidang seperti seksologi dan anatomi manusia, dan merupakan seksolog reguler,” kata Che.
Pelatihan ini hanya menimbulkan kontroversi. Sebagian besar perempuan yang mengikuti program ini adalah perempuan yang sedang mengalami permasalahan dalam rumah tangga, perselingkuhan atau rendah diri.
Meskipun beberapa orang merasa lebih baik setelah pelatihan, para kritikus memperingatkan bahwa program semacam itu menempatkan beban kesetiaan pasangan tepat di pundak istri, sehingga memperburuk masalah psikologis seperti kecemasan dan depresi.
Guru yang mengaku sebagai “terapis hubungan intim” tidak terdaftar di Masyarakat Seksologi Tiongkok, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kualitas dan keamanan pelatihan mereka. Beberapa ahli kesehatan berpendapat bahwa hal ini dapat melemahkan konsep kesehatan seksual secara keseluruhan, yang mencakup hubungan yang sehat dan kepedulian emosional daripada hanya berfokus pada kecantikan fisik.
“Ini adalah bisnis tidak etis yang mengambil keuntungan dari perempuan yang rentan dan khawatir dengan kehidupan mereka,” kata salah satu pengguna Weibo.
(naik/naik)