
Jakarta –
Paparan senyawa bisphenol A (BPA) yang terkandung dalam kemasan makanan dan minuman masih menjadi perdebatan masyarakat. Senyawa BPA banyak ditemukan pada wadah makanan dan minuman berbahan plastik polikarbonat. Jika terpapar di dalam tubuh, BPA diketahui menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan.
Jika masuk ke dalam tubuh, BPA dan analognya dapat masuk ke organ organisme hidup dan mengganggu fungsi sistem endokrin. Tinjauan literatur yang dilakukan oleh Department of Regenerative Medicine di Canadian University of Laval Research Center (2021) menemukan bahwa BPA merupakan senyawa kimia pengganggu endokrin yang ditemukan di berbagai daerah dan dapat mengatur jalur sinyal hormon dan berbagai fungsi biologis. Jika tidak diobati, senyawa ini dapat menyebabkan penyakit kronis pada tubuh seperti:
1. Kencing Manis
iklan
Gulir untuk melanjutkan konten.
Diabetes melitus merupakan penyakit yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti genetik, lingkungan dan gaya hidup. Menurut jurnal yang diterbitkan di situs resmi ScienceDirect, BPA sebagai bahan kimia pengganggu endokrin memiliki implikasi signifikan terhadap perkembangan diabetes melitus tipe 2.
Dalam hal ini, paparan BPA dikaitkan dengan kerusakan organ dan dapat memperburuk perkembangan penyakit kronis tertentu. BPA meningkatkan stres metabolik karena kadar glukosa yang tinggi, mempercepat penuaan sel dan apoptosis, yang pada gilirannya mendorong perkembangan diabetes mellitus.
2. Gagal jantung
Paparan senyawa BPA terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung. Sebuah studi yang dilakukan oleh Departemen Sains dan Pendidikan di Rumah Sakit Afiliasi Kedua dari Xiamen Medical College di Tiongkok menemukan bahwa kadar BPA berkorelasi positif dengan serangan jantung, gagal jantung, gagal jantung, dan stroke.
Anggota Journal of Department of Pharmacology, Cincinnati College of Medicine, dirilis di situs resmi National Library of Medicine, studi eksperimental menunjukkan bahwa paparan BPA akut dan kronis mempengaruhi fungsi fisiologis sistem kardiovaskular dan meningkatkan kelainan. . Penyakit kardiovaskular seperti aritmia, gagal jantung, aterosklerosis dan tekanan darah tinggi lainnya.
3. Penyakit ginjal
Penelitian telah menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara tingginya kadar BPA dalam darah dan kecenderungan berkembangnya penyakit ginjal, terutama kondisi patologis seperti diabetes dan hipertensi. Studi lain menemukan bahwa BPA dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ginjal kronis (Bosch-Panadero, et al., 2017).
Sebuah studi yang dilakukan oleh Universidad de Alcalá, Departemen Sistem Biologi/Fisiologi, Spanyol (2021) mengamati hubungan antara paparan BPA dan penyakit ginjal kronis. Studi tersebut menunjukkan bahwa tingginya kadar BPA dalam darah, terutama pada orang dengan masalah patologis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi, lebih mungkin menyebabkan penyakit ginjal.
Di sisi lain, penelitian dari Renal, Vascular and Diabetes Research Laboratory, Spanyol (2018) menunjukkan bahwa BPA menyebabkan kerusakan mitokondria, stres oksidatif, dan kematian apoptosis pada sel tubulus. Akibatnya, BPA dapat berkontribusi terhadap perkembangan penyakit ginjal kronis.
4. Kanker
Beberapa penelitian menemukan hubungan antara paparan BPA dan kanker terkait hormon, termasuk kanker payudara, prostat, dan ovarium. Di Sekolah Kesehatan Masyarakat Andalusia, Kampus Universitat de Cartuja, Spanyol (2021) melakukan penelitian terhadap 4.812 peserta dengan 547 kasus kanker payudara, 575 kasus kanker prostat dan 3.690 peserta subkelompok. Memiliki karakteristik dan hasil yang serupa, paparan BPA terbukti meningkatkan risiko kanker prostat seiring dengan peningkatan serum darah.
Selain itu, tinjauan literatur yang dilakukan oleh Departemen Obstetri dan Ginekologi, Universitas Kedokteran dan Farmasi, Rumania (2020) menunjukkan bahwa BPA memiliki efek negatif pada berbagai masalah sistem reproduksi wanita. BPA dapat menyebabkan perubahan jinak pada ovarium manusia. Oleh karena itu, BPA dapat dikatakan berperan dalam terjadinya kanker ovarium. Selain itu, beberapa penelitian in vivo pada sel manusia dan hewan uji menunjukkan hubungan langsung antara paparan BPA dan peningkatan kejadian kanker payudara (Dumitrascu, dkk, 2020).
Paparan senyawa BPA kini menjadi perhatian global. Berbagai negara di dunia telah melarang penggunaan BPA pada kemasan makanan dan minuman. Hubungi Kanada, Amerika Serikat, Denmark, Malaysia, Cina, dan negara lainnya. Sementara di Indonesia, perubahan peraturan mengenai label BPA masih diupayakan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
(Anl/Ega)