Australia Peringatkan WNI yang Kembali dari Bali, Ada Apa?-Blogicakicak.com

Blogicakicak.com-



Jakarta

Seorang wanita asal Queensland, Australia berbagi pengalamannya dirawat di rumah sakit di Ubud, Bali setelah terjangkit Demam Berdarah Dengue (DBD).

Selama 10 hari di Bali, turis tersebut mengaku tidak pernah melihat satupun nyamuk atau digigit nyamuk. Namun tiba-tiba ia dinyatakan positif mengidap demam berdarah dengue.

Ternyata sulit untuk tertular. Suhu tubuh saya antara 39 Celcius dan 40 Celcius selama lebih dari 40 jam, lapor 7 News.

iklan

Gulir untuk melanjutkan konten.

“Tidak ada drama sampai yang kelima kalinya di Bali. Terima kasih asuransinya. Saya akan tes darah setiap hari atau mungkin dua kali sehari selama seminggu ke depan,” lanjutnya.

Otoritas Kesehatan Australia telah angkat suara terkait masalah ini. Ia mencatat adanya peningkatan infeksi demam berdarah dengue di kalangan warga yang kembali dari Bali dalam beberapa tahun terakhir.

Juru bicara Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengatakan kepada 9news.com.au bahwa demam berdarah dengue paling umum terjadi selama musim hujan, yang biasanya berlangsung dari bulan November hingga April.

“Cara terbaik untuk mencegah demam berdarah adalah dengan menghindari gigitan nyamuk,” kata juru bicara tersebut. Dikutip dari 9 berita.

“Pemerintah menghimbau seluruh wisatawan untuk membaca saran perjalanan Indonesia di Smarttraveller, serta saran mengenai penyakit menular dan demam berdarah,” ujarnya.

Virus yang ditularkan oleh nyamuk ini banyak ditemukan di Bali, Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Di seluruh Indonesia, kasus demam berdarah meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, jumlah kasus demam berdarah mencapai 62.001 kasus pada minggu ke-15 tahun 2024. Sedangkan pada minggu yang sama tahun 2023, kasus demam berdarah 'hanya' 22.551 kasus. Artinya, jumlahnya meningkat hampir tiga kali lipat.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Bangli, Bali mengatakan, terjadi peningkatan kasus luka di Kabupaten Bangli.

“Kasus DBD di Kabupaten Bangui meningkat 65 persen dibandingkan Maret 2023, meski untungnya tidak ada pasien DBD yang meninggal dunia,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bangui I Nyoman Arsana.

Gejalanya mungkin termasuk demam mendadak, sakit kepala dan menggigil, pembengkakan kelenjar, mual dan muntah.

Menonton video”Tanggapan Dinkes Bali kepada media asing menyoroti tingginya kasus DBD di Bali
[Gambas:Video 20detik]
(suk/naf)

Sumber link

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama